30 September 2013

Fighting for Your Marriage: A deluxe revised edition of the classic best seller for enhancing marriage and preventing divorce

Sebagian besar masalah di dalam pernikahan bisa diselesaikan dengan komunikasi yang lancar. Terdapat tanda-tanda bahwa pasangan memiliki masalah komunikasi:
1) Ketika pasangan merespon dengan kata-kata pedas/ ejekan/ cemoohan satu sama lain.
2) Ketika salah satu pasangan menghindari pembicaan yang ingin dibicarakan. Menghindari ini bisa dengan pergi dari tempat pembicaraan, atau diam pada saat pembicaraan berlangsung.
3) Ketika salah satu atau kedua pasangan berkeyakinan negative terhadap motif dari pasangannya.


Ada cara efektif berkomunikasi dengan pasangan Anda, yaitu “The Speaker Listener Technique”. Aturan pada “The Speaker Listener Technique”:
1) Salah satu pasangan berperan sebagai pembicara, yang lain berperan sebagai pendengar.
2) Pembicara berkesempatan untuk mengungkapkan pemikiran/pendapatnya.
Kesempatan menjadi pembicara ini kita tandai dengan memegang sesuatu, misalnya dengan pena/remote TV (memegang sesuatu ini hanyalah untuk penegasan, bahwa dia berperan sebagai pembicara).
3) Pendengar menyimak dan memahami maksud dari pasangan Anda. Pendengar harus mengungkapkan apa yang disampaikan oleh pembicara, apa yang Anda ungkapkan ini harus sama dengan apa yang dimaksud oleh pembicara, sehingga tidak ada kesalah pahaman penafsiran terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara.
4) Setelah tidak ada salah penafsiran oleh pendengar terhadap apa pendapat yang disampaikan oleh pembicara, maka pasangan dapat berganti peran. Pembicara memberikan pena/remote TV kepada pendengar, yang artinya pembicara menjadi pendengar, dan pendengar menjadi pembicara.


Contoh “Speaker Listener Technique”:
Ceritanya adalah Pak Aditya dan Bu Tisa memiliki anak bernama Budi. Bu Tisa ingin memasukan anaknya ke playgroup, tetapi Pak Aditya tidak ingin anaknya saat ini dimasukan ke playgroup. Jika Bu Tisa ingin membicarakan tentang memasukan Budi ke playgroup, maka Pak Aditya selalu menghindar. Pak Aditya menghindar karena Dia yakin akan terjadi keributan (berdasarkan pengalamannya sebelumnya).

Bu Tisa: Kita harus membicarakan tentang playgroup Budi, karena pembicaraan tentang ini masih mengambang tak jelas.

Pak Aditya: (Terus melihat ke arah TV) oh..., saya tidak mood membicarakan tentang playgroup Budi.

Bu Tisa: (berjalan, kemudian berdiri di depan TV) Ayah, waktu pendaftaran akan dibuka tidak lama lagi, sedangkan kita belum ada keputusan.

Pak Aditya: (merasa bahwa dia selalu mencoba menghindar) Sebenarnya Ayah ingin juga membicarakannya, tetapi Ayah selalu menghindari untuk membicarakan hal ini, karena biasanya akan terjadi keributan ketika membicarakan masalah ini. Dan Ayah tidak ingin ada keributan. Untuk itu kita sebaiknya menggunakan “Speaker Listener Technique"

Pak Aditya memegang remote TV (berperan sebagai pembicara). Bu Tina berperan sebagai pendengar.

Pak Aditya (PEMBICARA): Ayah juga sering memikirkan playgroup mana yang akan Budi masuki, tetapi Ayah merasa belum saatnya Budi dimasukkan ke playgroup.

Bu Tisa (PENDENGAR): Ayah juga sering  memikirkan hal ini, tetapi Ayah merasa bahwa Budi belum saatnya dimasukan ke playgroup.

Pak Aditya (PEMBICARA): Iya, sikap Budi masih seperti anak-anak yang usianya di bawah dia.

Bu Tisa (PENDENGAR): Jadi Ayah khawatir Budi tidak akan klop dengan anak-anak yang bersikap lebih dewasa?

Pak Aditya (PEMBICARA): Salah satunya itu. Ayah juga tak yakin Budi siap jauh dari Mamanya. Hal ini berdasarkan pengalaman Ayah di masa kecil. Ayah mendapatkan banyak masalah di sekolah karena pada saat itu Ayah masuk sekolah prematur.

Bu Tisa (PENDENGAR): Jadi Ayah merasa Budi belum siap jauh dari Mama, dan hal ini juga mengingatkan Ayah akan pengalaman masa kecil Ayah.

Pak Aditya (PEMBICARA): Yup. Sekarang saatnya Mama mengungkapkan pendapatnya sebagai pembicara (Pak Aditya menyerahkan remote TV kepada Bu Tisa)

Bu Tisa (PEMBICARA): Terima kasih Ayah telah mau mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Mama tidak menyangka Ayah pernah punya pengalaman seperti itu ketika sekolah dulu. Mama sebelumnya Khawatir, jangan-jangan Ayah gak peduli tentang masalah ini. 

Pak Aditya (PENDENGAR): Sepertinya Mama senang setelah mengetahui bahwa Ayah peduli dengan masalah ini. Dan Mama sepertinya berpikir bahwa Ayah tidak peduli lagi dengan Mama, karena tidak ingin berkomunikasi tentang masalah ini.

Bu Tisa (PEMBICARA): Iya Yah. Pembicaraan ini sangat membantu untuk memahami perspektif Ayah. Mama kepikiran begini Yah, jika memang kita jadi memasukan Budi ke playgroup tahun ini, maka playgroup itu haruslah tempat yang tepat untuk Budi.

Pak Aditya (PENDENGAR): Jadi Mama merasa bahwa untuk memasukan Budi di tahun ini harus ke tempat playgroup yang tepat untuk Budi.

Bu Tisa (PEMBICARA): Iya Ayah. Sekarang saatnya Ayah yang menjadi pembicara (Bu Tisa menyerahkan remote TV kepada Pak Aditya)

Dan pembicaraan antara Pak Aditya dan Bu Tisa ini terus berlanjut........


Dengan “Speaker Listener Technique” kedua belah pihak akan mendapatkan kesempatan untuk berbicara, dan kedua pasangan akan didengarkan pendapatnya (tanpa ada salah tafsiran). Cara ini mungkin tidak efisien, tapi akan efektif untuk memahami perspektif pasangan Anda. Biasanya masalah akan terselesaikan ketika suami bisa memahami perspektif istrinya (dan sebaliknya, istri bisa memahami perspektif suaminya).

6 comments:

Rasheed zidane said...

nice artikel Gan, thx

Zulkiplin said...

Semoga bermanfaat Pak Rasheed. Terima kasih kembali :)

. said...

saya cari buku ini xo gda ya, Buku nya mengispirasi bgt
diman saya bisa dapatkan bukunya...???

Zulkiplin said...

Kayaknya belum ada versi bahasa Indonesianya.

Desi Oktoriana said...

Done!

Kalau saya lebih sering ditambah dengan banyak berdo'a agar Allah membukakan jalan pikiranku dan pikirannya... Alhamdulillah, meski tidak mulus, komunikasi kami sangat baik. thanks ya...

Zulkiplin said...

Tambahannya bagus itu Bu. Sami2 Bu

Post a Comment

Back To Top