02 November 2013

The Power of Habit: Why we do what we do and how to change it

Kebiasaan itu susah untuk diubah, tetapi ada kalanya kita ingin mengubah suatu kebiasaan buruk. Banyak dari kita gagal mengubah suatu kebiasaan, bukan karena lemahnya niat/motivasi, tetapi karena ketidaktahuan kita bagaimana kebiasaan itu tercipta.


Suatu kebiasaan memiliki diagram alur seperti di bawah ini

Diawali oleh suatu situasi tertentu sebagai pemicu yang akan memicu seseorang melakukan suatu rutinitas. Setelah orang tersebut melakukan suatu rutinitas, orang tersebut akan mendapatkan imbalan. Jika imbalan tersebut berkesan, maka orang tersebut akan mendambakan imbalan tersebut di masa depan.

Dalam pikirannya adalah, jika saya melakukan rutinitas ini, pada situasi seperti ini (pemicu), maka saya akan mendapatkan imbalan yang saya dambakan. Karena seringnya melakukan rutinitas yang sama untuk mendapatkan imbalan yang didambakannya, akhirnya rutinitas tersebut menjadi suatu kebiasaan.

Terciptalah diagram kebiasaan diatas. Jika pada situasi tertentu (pemicu), saya akan melakukan suatu rutinias tertentu untuk mendapatkan imbalan yang saya idam-idamkan.

Contohnya: Banyak anak-anak yang ketika dia tidak sedang belajar atau tidak sedang mengerjakan tugas, lalu berada di depan komputer (pemicu), dia akan bermain game (rutinitas), dia akan merasakan hal-hal seru (imbalan) pada saat bermain game.


Diagram kebiasaan di atas terdiri dari 3 komponen:
1) Suatu situasi tertentu sebagai pemicu
2) Rutinitas yang menjadi kebiasaan
3) Imbalan yang diidam-idamkam

Agar dapat mengubah kebiasaan secara efektif, yang perlu kita ubah hanyalah komponen ke-2. Jadi ketika suatu pemicu yang sama muncul, kita lakukan rutinitas yang berbeda, tetapi tetap mendapatkan imbalan yang sama dengan sebelumnya.


Contohnya: Pak Duhigg memiliki kebiasaan pergi ke kantin kantor untuk membeli kue coklat yang rasanya enak. Karena seringnya Pak Duhigg memakan kue coklat (kebiasaan), berat badannya naik, dan dia menjadi agak gendut. Pak Duhigg ingin mengubah kebiasaannya memakan kue tersebut agar tidak gendut.


Langkah ke-1 untuk mengubah kebiasaan: Mengidentifikasi rutinitas yang ingin diubah.
Rutinitas yang ingin diubah adalah pergi ke kantin kantor untuk membeli kue coklat sambil bersosialisasi dengan teman sekantor di kantin.


Langkah ke-2 untuk mengubah kebiasaan: Mengidentifikasi imbalan yang diidamkan.
Untuk mengidentifikasi imbalan yang diidam-idamkan kita harus melakukan serangkaian perobaan.

Percobaan hari ke-1) Sekitar jam 3 sore Pak Duhigg memakan buah apel (bukan kue coklat), jika Pak Duhigg merasa mendapatkan imbalan yang diidam-idamkan, artinya Pak Duhigg hanyalah lapar ketika jam 3 sore.

Percobaan hari ke-2) Sekitar jam 3 sore Pak Duhigg akan bersosialisasi dengan teman kantor, jika Pak Duhigg merasa mendapatkan imbalan yang diidam-idamkan, artinya Pak Duhigg pergi ke kantin hanyalah ingin bersosialisasi dengan teman.

Ternyata Pak Duhigg merasakan mendapatkan imbalan yang diidam-idamkan ketika rehat sebentar untuk bersosialisasi dengan teman kantornya.


Langkah ke-3 mengubah kebiasaan: Mengidentifikasi pemicu.
Kita dapat mengidentifikasi pemicu dari 5 hal, yaitu lokasi, waktu, perasaan, orang disekitar, kegiatan yang dilakukan sebelumnya.

Percobaan hari ke-3) Pak Duhigg sedang duduk di meja kerja, pada jam 3 lewat 36 menit, sedang bosan, tidak ada orang disekitarnya, kegiatan sebelumnya adalah mengirim email.

Percobaan hari ke-4) Pak Duhigg sedang diruang fotokopi, pada jam 3 lewat 18 menit, sedang senang, Ada Pak Dendi di sebelahnya, kegiatan sebelumnya adalah memprint file.

Percobaan hari ke-5) Pak Duhigg sedang di ruang konferensi, pada jam 3 lewat 41 menit, sedang lelah, Ada Pak Andi dan Bu Tari di sebelahnya, kegiatan sebelumnya adalah membahas proyek.

Dalam percobaan 3 hari ini dapat diidentifikasi bahwa pemicunya adalah waktu, yaitu antara jam 3 sampai jam 4.


Langkah ke-4 mengubah kebiasaan: Buat rencana.
Telah diidentifikasi bahwa kebiasaan pergi ke kantin untuk makan kue coklat ini terjadi antara jam 3 sampai 4 sore (pemicu), dan imbalan yang diharapkan adalah rehat sejenak dari pekerjaan dengan cara bersosialisasi dengan teman (imbalannya bukan enaknya makan kue coklat).

Akhirnya Pak Duhigg membuat rencana:
Setiap jam setengah 4 sore, saya akan pergi ke ruang teman sekantor dan ngobrol selama 10 menit.

Jika rencana ini dilakukan terus-menerus, rutinitasi ini akan menjadi kebiasaan baru yang mengubah kebiasaan memakan kue coklat.

4 comments:

Dini Anggraeni said...

wow keren bukunya.

asri a said...

makasi buat rangkuman bukunya, jadi pengen dicoba tips-tipsnya.....:D

http://twinq.blogspot.com

Raditya putra pamungkas said...

recommended book from Network21 bulan january nih..Good

Zulkiplin said...

Welcome to Bukuzu, Network21. Network21 sebagai organisasi pendidik anggota MLM Amway. Semoga bermanfaat rekomendasi bukunya untuk meningkatkan kemampuan anggorta MLM Amway

Post a Comment

Back To Top