01 March 2014

Mindset: How you can fulfil your potential

Banyak orangtua akan memberikan sanjungan ketika anaknya berprestasi, misalnya ketika anak meraih nilai ujian yang bagus.“Wow Kakak dapat nilai bagus, pintarnya anak mama.” Sanjungan seperti ini diharapkan akan memotivasi anak tersebut agar mendapatkan nilai-nilai ujian yang baik lagi di masa depan. Tapi ternyata, sanjungan seperti ini akan merusak pola pikir anak tersebut.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Carol Dweck kepada anak-anak Sekolah Dasar (SD). Penelitian ini dimulai dengan memberikan tes teka-teki yang cukup mudah kepada semua anak. Setelah tes dilakukan, peneliti memberitahu semua anak tentang nilai mereka. Sebagian anak disanjung karena kepintarannya (“Kamu pintar di bidang ini, nilai kamu bagus.”), dan sebagian yang lain disanjung karena usahanya (“Kamu mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, nilai kamu bagus.”).

Ternyata anak-anak yang disanjung kepintarannya akan membuat mereka senang pada saat diberikan sanjungan, tetapi mereka mendapatkan beberapa efek negatif.
Sebaliknya, anak-anak yang disanjung atas usahanya mendapatkan beberapa efek positif.


Efek pertama, ketika anak-anak disanjung kepintarannya, mereka menjadi sangat ingin terlihat pintar yang akibatnya membuat mereka enggan mengerjakan soal yang agak susah. Kebanyakan dari mereka lebih memilih soal yang mudah daripada soal yang agak susah, walaupun pada soal yang agak susah tersebut mereka bisa belajar sesuatu. Sebaliknya, anak-anak yang disanjung karena usahanya, 90 persen dari mereka ingin mengerjakan soal yang agak susah.

Efek ke-2, pada tes ke-2 semua anak diberi soal yang sangat susah, yang membuat hampir semua anak tidak bisa mengerjakan. Anak-anak yang disanjung kepintarannya merasa menjadi anak bodoh. Karena sanjungan “Kamu pintar di bidang ini, nilai kamu bagus.” Memiliki arti tersirat, bahwa kamu akan akan dibilang pintar jika bisa mengerjakan soal ini, jika kamu tidak bisa berarti kamu bodoh. Kepercayaan diri anak-anak yang disanjung kepintarannya sangat rapuh, karena kepercayaan diri mereka tergantung hasil yang mereka dapat.

Sebaliknya, anak-anak yang disanjung karena usahanya memiliki pemikiran bahwa kegagalan mereka mengerjakan soal bukan berarti mereka bodoh, tetapi merupakan pertanda bahwa diperlukan ketekunan yang lebih, karena mereka memiliki pemikiran bahwa soal yang lebih susah memerlukan ketekunan yang lebih lagi. pola pikir mereka ini terbentuk karena sanjungan yang diberikan: “Kamu mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, nilai kamu bagus.” Sanjungan ini memiliki arti tersirat bahwa ketekunan adalah kunci untuk mendapatkan nilai yang bagus.

Efek ke-3, anak-anak yang disanjung karena kepintarannya berkata bahwa mereka tidak lagi suka mengerjakan soal yang susah tersebut, dan tidak ingin menyelesaikan soal yang susah tersebut di rumah. Kegagalan mereka mengerjakan soal yang sangat susah membuat mereka tidak ingin lagi berlatih mengerjakan soal tersebut. Berbeda dengan anak-anak yang disanjung karena usahanya. Mereka menikmati mengerjakan soal yang susah tersebut dan ingin menyelesaikan soal tersebut di rumah.

Efek ke-4, pada tes ke-3 anak-anak diberikan soal yang memiliki tingkat kesusahan sama dengan soal pertama. Nilai anak-anak yang disanjung karena kepintarannya menurun sebesar 20 persen dibandingkan hasil tes pertama mereka. Sedangkan nilai anak-anak yang disanjung atas usahanya meningkat sebesar 30 persen dibandingkan hasil tes pertama mereka.

Efek ke-5, ketika semua anak diminta untuk menuliskan hasil tes mereka untuk diperlihatkan kepada anak lain yang tidak mereka kenal. 40 persen anak-anak yang disanjung kepintarannya berbohong tentang nilai mereka, Mereka menaikkan nilai mereka. Tetapi hanya sebagian kecil anak-anak yang disanjung karena usahanya berbohong tentang hasil mereka. Ini memiliki arti bahwa anak-anak yang disanjung karena kepintarannya menjadi sangat peduli dengan hasil, sehingga malu jika mereka gagal atau mendapatkan nilai yang kurang bagus. Mereka menjadi tidak dapat memberitahukan nilai asli mereka bahkan kepada anak lain yang mereka tidak kenal.


Mengapa 5 efek ini terjadi? Ketika kita memberikan sanjungan kita membentuk pola pikir seorang anak. Sanjungan untuk kepintarannya membentuk pola pikir Fixed-mindset. Sanjungan yang membentuk pola pikir Fixed-mindset memiliki pesan tersirat: “Kamu memiliki kemampuan yang merupakan bawaan dari lahir, dan saya akan menilai kemampuan tersebut.” Anak-anak yang pola pikirnya Fixed-mindset memiliki keyakinan bahwa kemampuan/inteligensi seseorang itu adalah bawaan dari lahir, jadi tidak bisa diubah. Pola pikir Fixed-mindset akan membuat seorang anak menghakimi dirinya sendiri: “Ini artinya saya bodoh”, ”Ini artinya saya pintar”, “Ini artinya saya lebih baik dari dia” dll

Sedangkan sanjungan atas usahanya membentuk pola pikir Growth-mindset. Sanjungan yang membentuk pola pikir Growth-mindset memiliki pesan tersirat: “Kamu seseorang yang sedang berkembang, dan saya tertarik dengan perkembanganmu.” Anak-anak yang pola pikirnya Growth-mindset memiliki keyakinan bahwa kemampuan/inteligensi seseorang itu bisa dikembangkan dengan ketekunan.


Inilah yang membuat anak-anak yang disanjung kepintarannya merasa takut untuk mengerjakan soal yang agak susah dan tidak bisa menerima kegagalan (soal yang agak susah beresiko kegagalan, dan kegagalan artinya saya bodoh). Sedangkan anak-anak yang disanjung karena usahanya, membentuk mereka menjadi anak yang suka belajar, ingin mengerjakan soal yang agak susah karena ada yang bisa dipelajari untuk berkembang, dan bisa menerima kegagalan karena kegagalan memiliki arti bahwa diperlukan usaha lebih untuk menyelesaikannya.


Contoh sanjungan yang membentuk pola pikir Fixed-mindset:
  • Sanjungan: "Kamu belajar cepat sekali! Kamu sangat pintar!"
  • Pesan tersirat: “jika kamu lambat belajar sesuatu, kamu anak yang bodoh. Dan saya akan menilai inteligensi kamu.”

  • Sanjungan: "Kamu sangat jenius, tanpa belajar kamu mendapatkan nilai A!
  • Pesan tersirat: “Seorang jenius adalah seseorang yang tanpa belajar bisa mendapatkan nilai A. Jika saya ingin disebut jenius, maka ketika ujian saya harus dapat A tanpa belajar”


Contoh sanjungan yang membentuk pola pikir Growth-mindset:
  • Sanjungan: "Maaf, sepertinya soal ini terlalu mudah untukmu. Mari kita cari soal yang agak susah agar kamu belajar sesuatu.
  • Pesan tersirat: “Yang terpenting adalah ada sesuatu yang bisa kamu pelajari ketika menyelesaikan suatu soal. Dan soal yang terlalu mudah untukmu tidak membuat kamu belajar sesuatu darinya”

  • Sanjungan: "Wow karya yang bagus, kamu pasti bekerja keras membuatnya
  • Pesan tersirat: “Bahwa diperlukan usaha lebih untuk menghasilkan karya yang bagus"


Jadi sanjungan yang baik untuk anak-anak adalah sanjungan pada prosesnya belajarnya (usahanya, strateginya, idenya, perkembangannya), bukan kepintarannya (kemampuannya, keahliannya, talentanya, hasilnya, orangnya).


Sanjungan yang baik adalah sanjungan yang terdapat minimal salah satu dari dua hal ini:
  • Yang terdapat pesan tersirat bahwa kemampuan (baik itu inteligensi atau talenta) bisa dikembangkan.
  • Yang terdapat pesan tersirat bahwa diperlukan usaha lebih atau ketekunan untuk meningkatkan kemampuan (baik itu inteligensi atau talenta)


link download artikel yang menyatakan inteligensi dapat dikembangkan http://www.brainology.us/websitemedia/youcangrowyourintelligence.pdf

2 comments:

Romyati said...

Apakah konsep ini hanya berlaku untuk anak-anak?

Bukuzu said...

enggak Bu Romyati, konsep ini juga berlaku untuk orang dewasa

Post a Comment

Back To Top