05 April 2014

Secrets of Power Negotiating: Inside secrets from a master negotiator

Sering kali ketika kita ingin membeli barang, kita dihadapkan dengan tawar-menawar harga. Dan kadang yang membuat situasi makin pelik adalah ketika kita tidak mengetahui harga pasaran dari barang yang ingin kita beli tersebut. Pada situasi seperti ini kita berharap memiliki suatu konsep tawar-menawar yang akan membuat kita dapat membeli  barang tersebut dengan harga standar di pasaran.

Buku Secrets of Power Negotiating akan mengajarkan bagaimana bisa menang dalam bernegosiasi, dan membuat pihak lain merasa bahwa dia juga menang.

Buku ini sebenarnya memiliki banyak konsep tentang negosiasi. Tapi di sini hanya dibahas konsep-konsep yang bisa diterapkan untuk tawar-menawar di kehidupan sehari-hari. Konsep-konsep tersebut antara lain:

1) Tawaran pertama haruslah melebihi apa yang diharapkan. Janganlah tawaran pertama langsung ke harga pas.
Dengan meminta lebih, maka:
      a) Jika tawaran ini diterima, Anda akan mendapatkan sesuatu yang melebihi harapan Anda.
      b) Jika Anda menjual, maka barang yang ditawarkan akan dipersepsi pembeli memiliki nilai lebih.
      c) Anda memiliki sesuatu untuk dinegosiasikan.
      d) Untuk membuat pihak lain merasa menang. Sebagai pembeli, ketika harga diturunkan oleh penjual, dia akan merasa menang.

Contohnya: Jika Anda ingin menjual barang seharga 8 ribu, jangan tawarkan dengan harga 8 ribu tetapi tawarkan dengan harga 10 ribu. Dengan penawaran pertama seharga 10 ribu, ketika ada penawaran dari pembeli, Anda bisa menurukan harganya sehingga pembeli merasa dia mendapatkan kemenangan.


2) Jangan pernah terima tawaran yang pertama kali datang menghampiri. Karena:
      a) Pihak lain merasa bahwa dia sebenarnya bisa mendapatkan lebih. “Mungkin tawaran saya terlalu tinggi, sehingga dia langsung menerima tawaran tersebut.”
      b) Pihak lain merasa ada sesuatu yang gak beres. “Kok tawaran serendah ini langsung diterima, jangan-jangan kondisi barangnya dah gak bagus?”


3) Bereaksi kaget pada tawaran pertama. Karena, ketika seseorang mengajukan tawaran pertama ke anda, dia memperhatikan reaksi anda. Seringkali tawaran pertama ini hanya tes untuk melihat reaksi Anda. Contoh reaksi kaget: “BUSYET DAH, MAHAL AMAT!”. Jika Anda tidak bereaksi kaget, pihak pemberi tawaran akan berpikir, “kemungkinan besar dia akan menerima tawaran ini, walaupun awalnya saya berpikir bahwa dia tidak akan menerimanya”.


4) Bersikaplah seperti enggan menjual barang jika anda adalah seorang penjual. Dengan sikap ini, peminat akan mencoba menawar dengan harga yang cukup tinggi agar pemilik barang mau menjual barangnya. Jika anda sebagai pembeli, bersikaplah seperti kurang tertarik dengan barang yang ditawarkan, sehingga penjual akan menawarkan dengan harga murah agar membuat anda tertarik membelinya.


5) Ketika terjadi proses tawar-menawar harga, buat pengurangan harga yang makin mengecil.
Misalnya: Jika Anda sebagai penjual. Anda menawarkan barang seharga 15 ribu, kemudian ditawar oleh pembeli, Anda dapat mengurangi harganya menjadi 13 ribu (pengurangan 2 ribu). Jika masih ditawar lagi, Anda bisa menguranginya menjadi 12 ribu (pengurangan seribu). Jika masih ditawar lagi, Anda bisa menguranginya menjadi 11.700 (pengurangan 300 rupiah). Dengan pengurangan harga yang makin mengecil (dari pengurangan 2 ribu, kemudian pengurangan seribu, kemudian pengurangan 3 ratus rupiah), kita telah memberitahu secara tersirat bahwa kita sudah semangkin mendekati harga terendah yang bisa diberikan.


6) Buat sehingga bukan pihak Anda yang pertama kali membuka harga. Dengan membuat pihak lain untuk membuka harga, maka:
      a) Anda dapat mengetahui, jangan-jangan tawaran pertama mereka lebih baik daripada yang anda harapkan.
      b) Anda dapat menyusun rencana untuk penawaran Anda. Misalnya: Jika tawaran pihak lain sebesar 100 ribu, sedangkan Anda mengharapkan bisa membeli dengan harga 80 ribu, maka Anda dapat mengajukan penawaran dengan harga 60 ribu. Sehingga jika kedua belah pihak sepakat mengambil jalan tengah, maka Anda mendapatkan harga yang Anda harapkan.

1 comment:

Desi Oktoriana said...

hemmm... saya kurang cocok sebagai marketing memang..
agak banyak hal yang tidak akan saya lakukan...

Post a Comment

Back To Top