03 May 2014

Crucial Conversations: Tools for talking when stakes are high

Ketika kita akan membicarakan hal-hal yang penting, tetapi pendapat kita berbeda dengan orang lain, atau ketika kita prediksi suasana pembicaraan akan menjadi emosional. Kita menjadi serba salah. Tidak dibicarakan, akan membuat kita tidak memahami duduk permasalahnya, dan ujung-ujungnya tidak akan ada solusi untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Dibicarakan, suasana akan tidak nyaman. Lalu pertanyaannya, bagaimana cara membicarakannya?

Untuk membicarakan topik dimana kita berbeda pendapat atau suatu topik yang sensitive:
1) Pertama-tama kita harus memiliki niat yang baik. Apa hal positive dari pembicaraan ini untuk diri sendiri dan teman bicara Anda. Niat ini akan berguna untuk memperkuat diri kita agar tidak terbawa emosi di tengah pembicaraan. 

2) Ketika kita membicarakan suatu topik pembicaraan, sering kali teman bicara kita akan diam, atau mengalihkan topik, atau marah-marah.
Hal ini terjadi karena teman bicara kita itu berkeyakinan bahwa:
   a) Pembicaraan ini tidak untuk kebaikannya. Teman bicara kita tidak yakin bahwa kita peduli dengannya, dan pembicaraan ini adalah untuk kebaikannya juga.

    b) Dalam proses pembicaraan teman bicara kita merasa tidak dihormati, dia merasa dihina. Ketika ini terjadi, maka teman kita akan mencoba membela harga dirinya.

    Ketika hal ini terjadi (ketika teman bicara kita diam atau marah-marah). Maka sebaiknya kita keluar dari topik pembicaraan. Kita harus membangun kembali suasana nyaman dalam pembicaraan ini, dengan cara:
    a) Kalau teman bicara kita marah karena kita tak sengaja membuatnya terhina atau terendahkan, maka minta maaflah dengan tulus.

    b) Ketika teman bicara belum yakin akan niat baik Anda, maka nyatakan niat Anda.

   c) Ketika teman bicara dan Anda memiliki tujuan yang berbeda, maka temukan tujuan dimana kedua belah pihak mendapatkan kebaikan.

    Setelah suasana nyaman terbangun kembali, baru kita kembali melanjutkan topik pembicaraan kita.


3) Agar pesan yang kita sampaikan dapat dipahami oleh teman kita, maka kita harus memulai dengan menyampaikan fakta-fakta yang kita lihat dan dengar, lalu baru sampaikan kesimpulan kita.


4) Agar kita memahami situasi dari perspektif teman bicara kita, maka kita harus menanyakan pendapatnya. Tunjukan ketertarikan untuk mendengarkan fakta-fakta yang teman kita miliki, dan memahami kesimpulannya. Jika memang teman bicara kita masih belum mau menyampaikan pendapatnya, kita bisa memancingnya dengan melakukan terkaan.

2 comments:

Post a Comment

Back To Top